Reset Indonesia: The Dragon is Not for Sale
Taman nasional adalah etalase keragaman ekosistem di Indonesia: dari gunung bersalju di Lorentz (Papua), danau musiman di Sentarum (Kalimantan), padang rawa lahan basah di Wasur (Papua), hutan tropis Bukit Barisan (Sumatra), hingga ekosistem terumbu karang di Wakatobi (Sulawesi). Masing-masing punya keunikan sejarah, alam, budaya, serta flora dan fauna.
Di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, kita bisa menikmati keindahan burung merak yang jadi objek penelitian film dokumenter Life in Colour karya David Attenborough. Warna pada burung merak tidak hanya elok, tapi juga menampakkan cara mereka berkomunikasi.
Ada pula Patung Palindo dari zaman megalitikum yang berdiri di Lembah Bada, Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah.

Tidak jauh dari sana, di Taman Nasional Togean, kita bisa menemukan pemukiman Suku Bajo yang jadi inspirasi film Avatar: The Way of Water.


Di perairan, Indonesia memiliki 7 taman nasional yang menyajikan pemandangan bawah laut yang eksotik.
Taman nasional bukan sekadar tempat pelestarian alam, ia juga sarana edukasi dan pariwisata yang merupakan industri yang penting bagi Indonesia. Pariwisata menyerap 10% angkatan kerja dunia—dinukil dari data World Travel and Tourisme tahun 2019. Dengan potensi sebesar itu, ekowisata menjadi aset berharga yang wajib dioptimalkan pemerintah.
Meningkatnya minat pada ekowisata didorong oleh sejumlah faktor:
- Generasi Z dan milenial mencari pengalaman autentik yang hanya bisa mereka temukan di alam.
- Perkembangan teknologi informasi memungkinan pelancong berbagi destinasi-destinasi yang belum dikenal banyak orang—sering disebut juga hidden gem.
Ekowisata dianggap lebih berkelanjutan karena membangkitkan kesadaran akan masalah lingkungan, menggenjot ekonomi, serta memperkenalkan budaya dan kearifan lokal.
Pemerintah bukannya abai dengan potensi ekowisata yang Indonesia miliki. Belakangan, mereka mempromosikan proyek 10 Bali Baru yang memadukan keasrian taman nasional dengan fasilitas premium yang dibangun untuk para turis. Memang terkesan menjanjikan, namun problematik. Di film dokumenter The Dragon is Not for Sale, tim Ekspedisi Indonesia Baru menceritakan dampak pengembangan wisata 10 Bali Baru di Labuan Bajo, Flores.
Yang pemerintah tiru sebenarnya bukan Bali, tapi Nusa Dua Bali yang merupakan kawasan wisata elit. Daya tarik Bali yang sesungguhnya adalah alam dan budayanya yang eksotik, bukan hotel-hotel estetik.
Tidak bisa dipungkiri, Bali memang sudah kehilangan jati dirinya. Menurut laporan Transnational Institute tahun 2018, Bali sudah kehilangan 25% lahan pertanian dalam 25 tahun terakhir, sementara populasi dan industri masing-masing naik 60% dan 330%. Turisme telah melenceng menjadi isu agraria, sosial, dan kebudayaan.
Hingga saat ini, pariwisata menopang 80% ekonomi Bali. Ketergantungan pada satu sektor membuat ekonomi Bali menjadi rapuh—kerapuhan itu nampak ketika wabah COVID-19 melumpuhkan hampir semua sumber pendapatan warga. Bali adalah korban dari kesuksesannya sendiri.
Lantas, apakah Flores dan Toba akan menjadi korban selanjutnya?
Turisme tidak harus mewah dan elitis. Ekowisata skala kecil berbasis komunitas dapat menyuguhkan sensasi dan kepuasan yang sama—atau bahkan lebih. Selain memakmurkan warga lokal, model wisata seperti ini lebih asli dan lestari.
Jadi, wisata alam macam apa yang diharapkan dari hotel mewah? Bukankah lebih asyik berkemah di tengah hutan sambil mendengarkan cerita rakyat? “Mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat,” kata Soe Hok Gie.