Reset Indonesia: Mustika Bung Karno
Ononan adalah masakan khas Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali, yang terdiri dari 10 dedaunan liar yang dimasak dengan bumbu dasar base genep (15 rempah yang diaduk jadi satu). Resep Ononan yang diwariskan secara turun-temurun tersebut didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul Mustika Rasa.
Pada akhir masa jabatannya, Bung Karno meminta Kementerian Pertanian menghimpun 1.600 resep masakan dari berbagai penjuru negeri untuk dirangkum menjadi buku ensiklopedia kekayaan rasa Indonesia. Tidak semuanya resep asli. Ada pengaruh budaya kuliner dari India, Cina, dan Eropa. Penerbitan buku ini dipicu oleh meluasnya gejala kelaparan yang melanda Indonesia pada saat itu.
Lewat buku Mustika Rasa, Bung Karno ingin menunjukkan keragaman pangan Indonesia. Bagi beliau, “lebih baik makan gaplek tapi independen, daripada makan beef steak tapi diperbudak.” Keragaman resep masakan mencerminkan keragaman bahan bakunya.
Mustika Rasa adalah manifesto keragaman hayati Indonesia.
Dari total spesies tanaman berdaun dan berbunga di dunia, 10% di antaranya—sekitar 19.000 spesies—tumbuh di Indonesia.
Indonesia adalah salah satu dari 17 negara yang disebut Mega Biodiverse Country.
Indonesia memiliki tak kurang dari 50 jenis ekosistem. Dari pegunungan salju di Papua, sampai lahan basah di Sumatra.
Indonesia memiliki hutan tropis terluas ketiga di dunia.
Indonesia adalah rumah bagi 720 jenis mamalia, 35 jenis primata, 270 jenis amfibi, dan 1.800 jenis burung.
Keragaman hayati Indonesia bukan hanya berkah bagi bangsa Indonesia, tapi juga bagi dunia. Ini adalah “modal alami” (natural capital) kita sebagai sebuah bangsa.
Meski dengan keragaman hayati yang melimpah, penyeragaman pangan semakin digalakkan pemerintah. Padahal, sejak dulu, masyarakat Indonesia menggantungkan hidup dari sumber daya alam di sekitarnya.
Pelestarian sumber daya alam baik di darat maupun di laut menjamin masyarakat mendapatkan hak dasar atas air bersih dan udara segar. Selain itu, alam yang lestari adalah modal utama pengembangan ekowisata yang berpotensi menggenjot ekonomi lokal.
Tidak semua yang masuk ke mulut kita harus berasal dari pabrik-pabrik besar. Makanan sehat dan murah ada dalam jangkauan kita.
Indonesia harus menjaga keragaman hayatinya. Jangan sampai dipatenkan perusahaan-perusahaan tak bertanggung jawab.
Keragaman hayati adalah resep utama untuk menyelesaikan masalah kurang gizi dan kelaparan di Indonesia.