Reset Indonesia: Mendinginkan Barang Panas
Zamrisyaf adalah pegiat energi terbarukan lulusan SMK. Di usia 20 tahun, beliau berhasil membangun pembangkit listrik tenaga air di desanya di Kabupaten Agam. Berkat pencapaiannya, beliau diangkat menjadi pegawai PLN sampai pensiun di tahun 2014. Belum puas dengan itu, beliau mendambakan sumber energi terbarukan yang lebih efisien dan bisa diperoleh secara cuma-cuma.
Suatu hari, dalam perjalanannya ke Mentawai, ia tertegun dengan kekuatan ombak yang mendera kapalnya. Dari situ, terbesit di benaknya untuk memanfaatkan gelombang laut untuk memanen listrik. Tidak seperti matahari yang kadang tertutup awan, ombak selalu mendera pantai setiap saat tanpa henti. Ini bukan gagasan baru. Pada tahun 1976, Jepang berhasil membangkitkan listrik menggunakan metode OWC (Oscillating Water Column): mereka membiarkan kolom-kolom terombang-ambing di laut. Ketika muka air laut turun, kolom menghisap udara dan memutar turbin. Metode Zamrisyaf berbeda: beliau menggunakan pendulum yang ditautkan pada turbin listrik. Setiap kali pendulum berayun, turbin akan berputar. Semakin keras ombak mengguncang, semakin kencang turbin berputar.
Berkat dedikasinya selama 10 tahun lebih, akhirnya beliau berhasil membuat prototipe impiannya yang mampu menghasilkan daya 2000 watt. Penemuan beliau yang terjangkau ini bisa dipasang di perahu nelayan untuk menyalakan pendingin agar hasil tangkapan tidak cepat busuk.
Coba bayangkan bila penemuan Zamrisyaf diterapkan? Dengan kekuatan ombak Samudera Hindia di pesisir Sumatra yang terbentang dari Aceh sampai Lampung, berapa watt listrik yang akan dihasilkan? Pembangkit listrik tenaga panas bumi, batu bara, angin, atau surya jadi tidak relevan lagi.
Masyarakat kita masih bergantung pada jaringan kabel terpadu yang mengalirkan listrik dari berbagai sumber yang mayoritas dihasilkan oleh batu bara dan minyak bumi. Selain membutuhkan biaya perawatan yang besar, listrik yang dialirkan juga kurang efisien dan belum mampu menjangkau seluruh pulau di Indonesia. Seberapa sering PLN memadamkan listrik?
Karena itulah swasembada energi jadi ambisi pemerintahan Prabowo. Mereka memimpikan Indonesia menjadi negara carbon-neutral: emisi karbon yang dilepas manusia sebanding dengan karbon yang diserap bumi. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan migrasi 70% bahan bakar fosil ke sumber energi terbarukan.
Sebenarnya ada banyak sumber energi terbarukan yang bisa jadi alternatif: ada biomassa dari limbah pertanian, biogas dari kotoran ternak, dan mikrohidro dari aliran sungai. Penemuan Zamrisyaf memang belum bisa diterapkan di daerah selain pesisir, namun setiap daerah seharusnya mampu membangun pembangkitnya sendiri dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia tanpa perlu bergantung pada pusat. Dengan begitu, beban ekonomi dari pembangkit listrik skala besar bisa direduksi secara signifikan. Desa Mandiri Energi bukan hanya sekadar slogan, tapi bisa diwujudkan.
Sumber energi dari minyak kelapa sawit bisa jadi alternatif, namun jika skalanya besar akan membuat tangki mesin bersaing dengan perut manusia. Selain boros air, tanaman industri ini menginvasi jutaan hektare hutan dengan segala keragaman hayatinya.
Ada pula bendungan raksasa yang menghimpun debit air sungai untuk membangkitkan listrik. Jika ditelisik lebih lanjut, bendungan membutuhkan lahan luas untuk menunjang ukurannya yang besar. Struktur bendungan yang memakan tempat itu kadang menyerempet tanah warga atau situs budaya di sekitar sungai. Oleh karena itu, banyak aktivis lingkungan mengecam pembangunan bendungan sampai-sampai Bank Dunia enggan membiayai proyek tersebut.
Meski dengan kelimpahan sumber energi skala kecil di pedesaan, dogma gigantisme masih ditelan mentah-mentah oleh pemerintah. Bagi mereka, pembangkit listrik itu harus besar dan terpusat.
Sebagai solusi, pemerintah mengambil jalan pintas dengan menyasar geotermal. Indonesia adalah negeri vulkanik dengan cadangan panas bumi terbesar di dunia. Geotermal dianggap lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan gas rumah kaca, namun kenyataan pahit di lapangan tidak disiarkan pemerintah.
Terdapat permasalahan serius yang timbul dari proyek geotermal. Pertama, cadangan panas bumi umumnya berada di hutan lindung dan pemukiman warga. Kedua, teknologi fracking yang dipakai dalam pengeboran melibatkan senyawa kimia yang disuntikan bersama jutaan kubik air untuk melepaskan uap dari dalam tanah. Senyawa kimia tersebut berbahaya bagi manusia. Di samping itu, penyuntikan air ke dalam tanah dapat memicu gempa mikro, longsor, dan perubahan siklus hidrologi.
Karena mudaratnya lebih besar dari manfaatnya, proyek geotermal banyak diprotes, apa lagi di Flores yang dijuluki Pulau Geotermal.
Dari permasalahan di atas, timbul pertanyaan: apa solusi yang bisa diajukan bila kita menolak geotermal dan bendungan raksasa?
Di perkotaan yang sumber daya alamnya terbatas, pemerintah bisa membangun pembangkit listrik tenaga sampah atau biogas dari tinja—sistem pengolahan limbah dipadukan dengan generator listrik. Warga perkotaan juga bisa mengais surplus energi dari daerah lain di sekitar.
Jika sudah tidak ada pilihan lagi, geotermal bisa diusahakan, tapi dengan syarat yang ketat:
- Sebisa mungkin skalanya kecil agar dampak ekologisnya bisa ditakar
- Eksploitasi energi harus melibatkan warga
- Warga harus mendapatkan manfaat terbesar
- Pemerintah menjamin keselamatan dan kesehatan warga
Bila syarat di atas terlalu sulit untuk dipenuhi, mengapa pemerintah tidak menempuh jalan lebih sederhana? Bagaimana dengan penemuan Zamrisyaf? Jika seorang tamatan SMK bisa menciptakan inovasi seperti itu, seharusnya lembaga riset bisa menyainginya. Pemerintah juga bisa belajar dari Jepang yang berhasil merakit panel surya yang lebih ringan dan lentur sehingga bisa ditekuk-tekuk menyesuaikan arsitektur rumah. Jepang bahkan berencana memproduksi 20 gigawatt listrik—setara 20 reaktor nuklir—melalui panel tersebut.