Reset Indonesia: Mandiri Pangan
Program lumbung pangan (food-estate) adalah proyek gagal 3 presiden, namun masih saja digaungkan pemerintah.
Proyek ini berlandaskan pada dogma gigantisme yang mengganggap bahwa ekonomi skala besar (economies of scale) adalah cara terbaik untuk mengatasi krisis pangan—padahal tidak demikian. Ekonomi skala kecil (economies of scope) justru terbukti lebih efisien dan berkelanjutan (sustainable).
Menurut Vandana Shiva, aktivis kedaulatan pangan India, 80% pangan dunia dipasok oleh pertanian keluarga yang hanya memanfaatkan 25% lahan. Sebaliknya, pertanian skala industri memakai 75% lahan untuk memproduksi 20% pangan. Ingat Prinsip Pareto?
Data dari Badan Pangan Dunia (FAO) tidak jauh beda. FAO sendiri menyarankan agar negara-negara memperkuat pertanian skala kecil untuk mewujudkan swasembada pangan.
Pertanian skala industri bukan saja tidak efisien, tapi dampak lingkungannya amat serius. Pemerintah membabat hutan untuk membuka lahan garapan, sementara reboisasi hutan yang rusak membutuhkan waktu lama.
Hutan adalah fondasi kehidupan. Keragaman hayatinya menginspirasi seni, budaya, dan ilmu pengetahuan. Di antara semuanya, ilmu pengetahuan adalah komoditas paling mahal—lebih mahal dari kayu yang bisa ditebang, pangan yang bisa dipanen, atau minyak yang bisa disadap.