💡 Reset Indonesia

Reset Indonesia: Air Kehidupan

Reset Indonesia: Air Kehidupan

Kategori: #gagasan

Warga Pulau Papagaran harus mengambil air dari Labuan Bajo yang terpisah oleh laut. Setiap warga merogoh kocek Rp800.000 per bulan hanya untuk air bersih—jauh lebih mahal dari biaya tagihan air di London dan New York. Sumber air di sana sangat minim. Mereka harus mengantri di belakang truk yang mengangkut air bersih dari kapal laut. Fenomena ini sangat tidak khas Flores.

Menurut Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi), layanan air bersih lewat pipa baru mencakup 20% keluarga Indonesia.

Untuk air minum, 30% keluarga masih bergantung pada air minum kemasan. Selebihnya, mereka merebus air sungai, sumur, atau danau yang rentan tercemar bakteri e-coli. Bakteri e-coli membunuh 27.000 anak setiap tahun dan menyebabkan 80 juta anak mengidap stunting.

Ketergantungan pada air minum kemasan semakin tinggi akibat menyusutnya cadangan air tanah dan pencemaran lingkungan. Alih-alih menjadi solusi, air minum kemasan justru memperparah keadaan dengan limbah plastik yang dihasilkannya. Sekitar 200.000 ton/tahun plastik hanyut di sungai dan dibawa ke laut.

Ketersedian air bersih dan sarana sanitasi yang layak seharusnya jadi prioritas utama pemerintah. Ambisi Indonesia menjadi negara maju harus disandarkan pada ukuran yang lebih sederhana: akses air bersih untuk semua warga. Itulah yang dilakukan negara-negara maju di Skandinavia yang air kerannya bisa langsung diminum.

Jika Skandinavia terlalu jauh, Indonesia bisa menengok Singapura yang menempati posisi pertama Enviromental Performance Index (EPI) yang dirilis Universitas Yale. Indonesia ada di peringkat ke-128 dari 180 negara yang disurvei.

Membangun instalasi pengolahan air dan jaringan pipa belum cukup untuk menyelesaikan masalah. Pemerintah juga harus melestarikan hutan-hutan yang jadi sumber air bersih masyarakat setempat. Ironisnya, hutan Bowosie yang sumber mata airnya melimpah digunduli untuk dijadikan objek wisata. Dengan begini, potensi krisis air di Labuan Bajo sudah tak terelakan lagi.

Berkat atraksi turis di Taman Nasional Komodo, konsumsi air di Labuan Bajo meningkat pesat. Tidak hanya untuk minum, tapi juga untuk kolam renang dan lapangan golf. Jika cadangan air tanah di Labuan Bajo menyusut, bagaimana nasib warga Pulau Papagaran yang mengais air dari sana?

Air diakui sebagai hak asasi manusia. Akses air bersih dan sanitasi berkaitan dengan lingkungan yang sehat. Merusak lingkungan dengan membabat hutan sama saja dengan melanggar hak asasi manusia.