Reset Indonesia: Matematika Yosef Erwin
Yosef Erwin adalah petani cerdas asal Desa Wae Sano, Flores. Pemerintah mengiming-iminginya uang ganti rugi agar beliau bersedia melepas tanahnya. Di bawah tanahnya, bersemayam energi panas bumi yang melimpah. Pencaplokan tanah ini adalah bagian dari proyek geotermal pemerintah.
Pak Yosef punya hitung-hitungannya sendiri. Menurut beliau, taksiran harga tanahnya terlampau rendah—seharusnya bisa mencapai Rp26 miliar. Namun, meski dengan harga segitu, beliau tetap tidak akan melepasnya.
Petugas lapangan hanya menaksir pohon-pohon komersial seperti kopi, kakao, jeruk, alpukat, dan kemiri. Padahal, pohon kemiri hanya berbuah setelah 3 tahun tumbuh dan akan tetap berbuah sampai 50 tahun. Di bawah pohonnya yang rindang, tumbuh jamur yang bisa dimakan. Di sela-sela rerumputan, ada tanaman obat daun mencok yang biasa dikonsumsi ibu-ibu sehabis melahirkan. Ada juga kapulaga yang merupakan rempah termahal setelah vanili. Jika semuanya dihitung, jauh melampaui harga taksiran pemerintah.
Selain potensi agribisnis yang hilang, pengeboran panas bumi juga berdampak pada kerusakan hutan. Tidak hanya itu, keragaman hayati yang kaya di Wae Sano juga ikut terancam.
Proyek 10 Bali Baru di Labuan Bajo tak hanya mengancam hutan sekitar Desa Wae Sano. Sebuah kawasan wisata eksklusif dibangun di hutan Golomori dan Bowosie yang merupakan sumber mata air yang penting bagi masyarakat.
Ribuan kilometer dari Desa Wae Sano, petani di Desa Wadas, Jawa Tengah, juga mengalami nasib yang sama. Mereka bersengketa dengan pemerintah yang hendak menggusur tanah mereka untuk pertambangan batu andesit. Ini terkait pembangunan Waduk Bener—salah satu Proyek Strategis Nasional.
Desa Wadas amat subur. Di sana tumbuh pohon kemukus—rempah sekaligus obat asma—yang harga per kilogramnya mencapai Rp250.000. Selain itu, di sana tumbuh kelapa, aren, jati, karet, petai, mahoni, sengon, akasia, pisang, nangka, durian, kapulaga, cengkih, jahe, dan kencur.
Bagi Marsono, petani Wadas, uang ganti rugi sebanyak apapun akan habis. Lahan pertanian yang beliau miliki mampu menghidupi anak-cucunya kelak.
Di sebuah tebing di Desa Wadas tertulis: “Petani Penolong Negeri.”