đź’ˇ Reset Indonesia

Reset Indonesia: Hidup Sederhana Rendah-Karbon

Reset Indonesia: Hidup Sederhana Rendah-Karbon

Kategori: #gagasan

Semua aktivitas manusia menghasilkan karbon dan gas metana yang menjadi pemicu pemanasan global, namun setiap orang punya jejak karbonnya masing-masing: mereka yang naik kendaraan pribadi melepaskan emisi lebih banyak dibanding mereka yang jalan kaki. Mereka yang makan Beef Welington lebih banyak berkontribusi menaikkan suhu bumi dibanding mereka yang makan kelepon.

Di antara miliaran manusia, orang Suku Baduy dan warga Bhutan meninggalkan jejak karbon paling sedikit di bumi. Gaya hidup mereka yang sederhana dan selaras dengan alam merupakan pencapaian yang sulit ditandingi.

Dibandingkan dengan mereka, emisi karbon yang kita buang ke udara sangatlah besar. Meski begitu, kita masih bisa mengimbanginya dengan melestarikan hutan yang lebih besar.

Dalam 20 tahun terakhir, para aktivis lingkungan mengampanyekan sumber energi terbarukan. Kebisingan yang mereka buat memang menarik perhatian, namun pemakaian bahan bakar fosil justru semakin meningkat. Mengapa demikian? Untuk menjawabnya, kita perlu menelaah fenomena yang dikenal sebagai The Jevons Paradox.

Pada 1865, William Stanley Jevons menulis buku berjudul The Coal Question. Dalam bukunya, beliau berpendapat bahwa meningkatnya penggunaan batu bara di era Revolusi Industri disebabkan oleh mesin-mesin yang semakin canggih. Mesin-mesin tersebut lebih murah dan efisien sehingga membuat permintaan pasar meningkat. Alih-alih meningkatkan produksi, mesin-mesin tersebut malah lebih banyak menguras cadangan energi.

Kini, teknologi kita jauh lebih canggih, murah, dan efisien, namun dahaga manusia akan energi masih belum reda. Ambil contoh Amerika Serikat. Porsi pemakaian energi untuk perkakas rumah tangga di Amerika Serikat meningkat 35% dibanding dua dekade terakhir, sementara rumah-rumah baru menguras 20% lebih banyak energi. Tidak mengherankan bila Amerika Serikat tercatat sebagai salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di bumi.

Bagaimana dengan Indonesia? Konsumsi energi per orang di Indonesia masih tergolong rendah, bahkan salah satu yang terendah di ASEAN. Memang cukup melegakan, namun jangan bangga dulu sebab ada kesenjangan besar antara pemakaian energi di pedesaan dan perkotaan.

Di perkotaan, konsumsi bensin dan solar terlampau tinggi meski pendapatan per kapitanya rendah. Pabrik-pabrik sebenarnya mampu memproduksi mobil murah hemat energi, namun konsumsi bensin dan solar justru melambung tinggi. Bagaimana bisa? Jawabannya: semakin murah suatu barang, semakin tinggi daya beli masyarakat.

Dalam 10 tahun terakhir saja, jumlah mobil pribadi melonjak dari 4 juta menjadi 11 juta. Alhasil, percepatan jumlah kendaraan pribadi di jalan membuat subsidi BBM terus membengkak. Tidak hanya itu, rumah-rumah kita juga dijejali barang-barang elektronik yang daya listriknya diperoleh dari bahan bakar fosil.

Lantas, apakah mengganti bahan bakar fosil dengan sumber energi terbarukan dapat menyelesaikan masalah? Sayangnya, The Jevons Paradox berlaku pada semua jenis energi.

Mari kita telisik mobil listrik. Meski dengan embel-embel ramah lingkungan, mobil listrik ternyata memilik jejak karbon yang sangat tinggi. Untuk membuat baterainya saja, diperlukan nikel dalam jumlah besar. Pengolahan nikel membutuhkan mesin-mesin berukuran raksasa yang hanya bisa beroperasi dengan daya listrik. Listrik tersebut dialirkan melalui pembangkit tenaga uap hasil pembakaran batu bara yang emisi karbonnya sangat tinggi.

Itu baru baterainya. Belum lagi komponen dan suku cadang lain yang proses manufakturnya sama-sama tidak ramah lingkungan dan boros energi.

Dampak The Jevons Paradox memang sudah tak terelakan lagi, namun kita masih bisa mengatasinya lewat kebijakan publik. Pemerintah bisa membatasi peredaran barang elektronik dan memberlakukan peraturan yang memaksa masyarakat beralih ke transportasi publik. Selain pembatasan, gaya hidup hemat energi juga perlu disiarkan kepada masyarakat. Di kalangan aktivis lingkungan, ada konsep reduce, reuse, dan recycle: mengurangi pemakaian barang, menggunakannya secara berluang, dan mendaur ulangnya bila sudah tidak dipakai. Intinya, hidup sederhana dan sewajarnya saja.

Di belahan dunia lain, orang-orang sudah memulai gerakan live-with-less: membangun rumah berukuran standar yang berisi barang-barang keperluan saja—karena pembelian satu barang dapat mendatangkan barang-barang lain ke rumah. Intinya, menahan diri untuk memiliki sesuatu meskipun kita mampu.

Hidup sederhana bisa dimulai dari hal-hal kecil. Kita tidak harus meniru Mahatma Gandhi yang memakai selendang hasil tenunan sendiri. Cukup mengurangi konsumsi dan menjalani hidup bagaikan pengelana yang menetap sebentar kemudian beranjak pergi.