Reset Indonesia: Blue Donut, Anyone?
Dari satu kegiatan budi daya kopi, muncul berbagai manfaat. Kopi yang kita seruput sebenarnya hanya 0.2% dari satu tubuh tanaman kopi, sisanya tidak terpakai. Padahal, kulit dan ampas kopi adalah medium yang baik untuk menumbuhkan jamur. Jamur punya nilai ekonomi yang bagus di pasaran. Ketika jamur dipanen, limbahnya bisa dijadikan pakan ternak. Kotoran ternak menghasilkan biogas pembangkit listrik dan bisa diolah menjadi pupuk penyubur tanaman kopi. Saat tanaman kopi berbuah, biji kopi siap dipanen kembali. Inilah ekonomi sirkular yang menggabungkan berbagai proses produksi dalam satu siklus sehingga tidak ada limbah yang tersisa. Sebuah kebermanfaatan maksimal.
Ekonomi sirkular sebenarnya bukan barang baru. Nenek moyang kita sudah melakukannya sejak dulu: petani mengairi sawah dengan aliran sungai, kubangannya dimanfaatkan untuk memijah ikan, limbah padi untuk pakan ternak, hewan ternak menjadi sumber protein masyarakat, kotorannya menggemburkan tanah, dan tanah gembur menyuburkan tanaman.
Ekonomi sirkular tersebut dirumuskan dalam satu konsep bernama Ekonomi Biru yang dicetuskan Gunter Pauli, ekonom asal Belgia.
Ekonomi Biru terinspirasi dari cara alam bekerja—alam begitu efisien, seimbang, proporsional, dan tidak menyisakan limbah.
Ekonomi Biru bekerja dengan apa yang kita punya melalui inovasi dan kreativitas dalam memanfaatkan sumber daya yang terbatas. Dari kelangkaan menuju keberlimpahan. Semuanya bisa dimulai secara mandiri tanpa modal besar dan investasi dari luar.
Pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan kelestarian alam adalah fondasi Ekonomi Biru. Ide ini sejalan dengan pepatah “mengambil dari alam secukupnya saja.” Dari perspektif Ekonomi Biru, kelestarian alam merupakan kemakmuran itu sendiri.
Ekonomi Biru memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Lokal
- Sederhana
- Inovatif
- Mengadopsi keragaman
- Kolaboratif
- Terpadu/terintegrasi
- Nir-sampah
Ekonomi Biru selaras dengan Ekonomi Donat yang dipopulerkan Kate Raworth, ekonom Oxford.
Ekonomi Donat berfokus pada pemerataan.
Seperti donat, lingkaran dalam adalah batasan untuk mencegah manusia terjerumus dalam kemiskinan. Lingkaran luar adalah batasan pemenuhan kebutuhan manusia agar alam tetap terjaga. Apabila manusia diibaratkan sebagai butiran meses, jika jatuh di lingkaran dalam, berarti ia sengsara. Jika jatuh di lingkaran luar, berarti ia tamak. Kehidupan yang ideal berada di adonan donatnya: tidak jatuh ke dalam, tidak meluber ke luar.