đź’ˇ Reset Indonesia

Reset Indonesia: Spice Up the World

Reset Indonesia: Spice Up the World

Kategori: #gagasan

Barus tercatat dalam Geographike Hyphegesis karya Claudius Ptolemy sebagai kota pelabuhan penting di jalur perdagangan rempah dunia. Tidak hanya memasok kapur barus, Barus juga menjajakan berbagai rempah yang didatangkan dari penjuru Nusantara. Rempah adalah komoditas mahal yang diperjualbelikan sejak dulu kala—jauh sebelum kolonial Eropa mengincarnya.

Jalur perdagangan ini menghubungkan kota-kota pelabuhan seperti Barus, Ternate, dan Demak.

Geographike Hyphegesis

Demak sudah dikenal sejak zaman Majapahit. Marco Polo (1254-1324) pernah singgah di sana dan menyebut Jawa sebagai produsen lada, pala, lengkuas, cengkih, dan tanaman obat lainnya.

Ibnu Batutah (1304-1369) belum pernah ke Jawa, hanya sempat singgah di Lhokseumawe dalam perjalanannya ke Tiongkok, namun catatan perjalanannya menggambarkan kemakmuran Jawa yang hijau dan berbunga di mana penduduknya lalu lalang membawa koin emas. Banyak pedagang Muslim yang sezaman dengannya berkunjung ke Demak. Tidak mengherankan bila Demak jadi pusat penyebaran Islam di Jawa.

Selain pedagang Arab, orang-orang Persia, Tiongkok, India, dan Eropa juga ramai-ramai berkunjung ke Demak. Keragaman etnis ini menjadikan Demak kota pelabuhan kosmopolitan yang multikultural dan multireligius.

Barus dan Demak adalah saksi kejayaan ekonomi maritim Indonesia di masa lampau. Saking bangganya, pemerintah meminta UNESCO mengakui jalur perdagangan rempah sebagai warisan dunia.

Cengkih

Meski daya tarik rempah tidak semasif dulu, rempah masih menjadi komoditas penting. Kebutuhan akan rempah tidak pernah sirna. Selain dijadikan bumbu masakan, rempah adalah bahan dasar obat-obatan, kosmetik, dan minyak astiri. Minyak astiri atau minyak esensial punya nilai ekonomi yang bagus di pasaran. Menurut Dewan Astiri Indonesia, terdapat 400-500 jenis tanaman rempah yang bisa tumbuh di negeri ini.

Indonesia adalah pemasok minyak astiri terbesar di dunia, namun belum mampu memenuhi permintaan pasar sebab kerusakan lingkungan dan kemunduran sektor pertanian membuat produksi rempah menyusut. Ketika produksi rempah menyusut, potensi ekonomi akan hilang dan kemiskinan semakin meradang. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, tingkat kemiskinan di wilayah pesisir seperti Barus dan Demak mencapai 13%, melebihi rata-rata nasional.

Rempah hanya salah satu tulang punggung ekonomi maritim Indonesia. Sektor perikanan tangkap, budi daya laut, wisata bahari, serta transportasi laut masih belum dimanfaatkan secara optimal. Potensi ekonomi maritim Indonesia diperkirakan mencapai Rp4.875 triliun.

Dengan ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, seharusnya perdagangan antar pulau sudah bisa menghidupi banyak orang—apa lagi ditambah dengan ekspor. Namun, buruknya transportasi laut di Indonesia menghambat pertukaran komoditas sehingga ekonomi lokal sulit berkembang.

Untuk menopang ekonomi maritim, riset-riset tentang transportasi bahari perlu diperluas. Industri kapal dan pesawat Indonesia tidak boleh mati.

Pada masa Perang Dingin, Rusia membuat prototipe kendaraan baru hasil perkawinan antara kapal perang dan pesawat tempur yang disebut GEV (Ground Effect Vehicles). Mereka menamainya Ekranoplan. Wahana ini hanya melayang beberapa meter dari permukaan laut, namun melaju lebih cepat dari kapal mana pun. Perkembangan teknologi ini diilhami oleh burung-burung yang terbang rendah memanfaatkan efek bantalan udara di permukaan laut yang membuat mereka melaju cepat tanpa memerlukan tenaga besar. Efek bantalan udara itulah yang membuat GEV mampu menghemat bahan bakar.

Perkembangan wahana ini dihentikan setelah Perang Dingin berakhir. Kini, Amerika Serikat mengambil tongkat estafet dari Rusia. Pada 2023, DARPA meminta anak perusahaan Boeing untuk merakit GEV seukuran Ekranoplan.

Indonesia tidak perlu wahana-wahana raksasa seperti itu. Kita bisa belajar dari Singapura dan Cina yang telah mengembangkan mini-ekranoplan untuk memperlancar hubungan antar pulau dan memperkuat ekonomi maritim.