Reset Indonesia: Kecil itu Indah

Reset Indonesia: Kecil itu Indah

Kategori: #gagasan

Ketika COVID-19 melanda, aktivitas manusia terhambat. Konsekuensinya, udara menjadi bersih, langit kembali biru, dan volume sampah di sungai menurun. Solidaritas antar warga kian menguat untuk memastikan penyebaran virus tidak meluas. Inilah normal baru.

Banyak yang ingin kembali ke normal lama seperti semula. Namun, mari kita telaah lagi normal lama sebelumnya. Apa sih yang disebut kemajuan? Apa tujuan hakiki dari pembangunan? Layakkah mengejar pertumbuhan ekonomi yang memicu konsumerisme dan kerusakan lingkungan? Apakah kata cukup benar-benar tidak ada di kamus kita?

Pertumbuhan ekonomi itu ada batasnya sebab sumber daya alam terbatas.

“There is more to life than GDP”, kata Ernst Friedrich Schumacher. Buku-buku beliau yang berjudul Small is Beautiful (1973) dan A Guide for the Perplexed (1977) menjadi rujukan cara pandang baru tentang arti sebuah kemajuan—suvenir dari abad ke-20.

Ernst Friedrich Schumacher menitikberatkan gagasannya pada ekonomi skala kecil—memilih produksi oleh massa (production by mass) daripada produksi massal (mass production). Menurut beliau, ekonomi skala kecil ini menciptakan keadilan sosial dan menjaga kelestarian alam. Dengan skala yang kecil, lebih mudah menakar dan mencari solusi bila muncul masalah. Beliau mengadopsi filsafat Buddha dan spiritualisme Mahatma Gandhi untuk mengkritik materialisme Barat. Gagasan beliau juga mengilhami hidup sederhana, merasa cukup, tahu batas, dan bekerja dengan apa yang kita punya—Punk yang sesungguhnya.

Pembangunan tidak dimulai dari bahan material, tapi dari karakter manusia.

Dalam sistem kapitalisme, pasar tidak memiliki moral. Pelaku pasar hanya bertanggung jawab atas diri mereka sendiri. Etis atau tidak etis nilainya sama jika dikonversi ke rupiah. Tidak peduli petani digusur, selama bisa membangun pabrik semen. Tidak peduli nelayan hilang mata pencahariannya, selama bisa menambang emas. Semuanya atas nama pembangunan.

“Dunia ini cukup untuk seluruh umat manusia, tapi tidak untuk keserakahannya”, kata Mahatma Gandhi.