Reset Indonesia: Beyonce Bicara Kemiskinan
Pada tahun 2015, PBB menggelar hajatan di Central Park, New York yang dibintangi pesohor seperti Beyonce, One Direction, Pearl Jam, dan Cold Play. Pembangunan berkelanjutan adalah tema utama dari perhelatan yang dihadiri pemimpin-pemimpin dunia tersebut. Salah satu ambisi mereka adalah mengentaskan kemiskinan di tahun 2030.
Pembangunan berkelanjutan adalah pengakuan bahwa pertumbuhan ekonomi harus berkesinambungan dengan kelestarian alam dan lingkungan hidup sebab manusia bergantung padanya.
Sebelum Revolusi Industri, orang-orang desa di Inggris hidup sederhana, tapi jauh dari kemiskinan. Mereka punya akses terhadap tanah untuk sumber makanan dan area kolektif untuk kebutuhan sehari-hari seperti kayu besar untuk membangun rumah, ranting kering untuk memasak, lahan untuk ternak, dan sumber mata air yang bisa dinikmati bersama. Budaya gotong royong dan kebersamaan ini menghilang seiring dengan adanya privatisasi sektor publik yang mencirikan era Revolusi Industri. Orang-orang desa mulai bermigrasi ke kota dan menjadi buruh dengan upah murah. Kesulitan di zaman itu digambarkan dengan apik oleh Charles Dickens di novelnya berjudul Oliver Twist.
Kemiskinan dan ketimpangan sosial diciptakan oleh sistem yang tidak adil. Maka dari itu, para ekonom berlomba-lomba menciptakan mazhab dan model ekonomi yang pas untuk mengentaskan kemiskinan.
Konon, ekonomi adalah ilmu sosial paling ilmiah. Permasalahan sosial-politik-ekonomi seperti kemiskinan bisa direduksi menjadi rumus-rumus ekonometrika di papan tulis. Paul Romer, ekonom New York University, mengkritik kecenderungan para ekonom—termasuk pemenang Nobel—yang menggunakan model matematika untuk mendukung ideologi yang mereka percaya sekaligus memberi kesan ilmiah pada teori yang mereka usungkan. Ekonom sering dimintai pendapatnya. Seperti dukun, prediksi mereka kadang benar, tapi lebih banyak salahnya.
Sialnya, ekonom ini ditempatkan di posisi strategis di pemerintahan. Kebijakan publik yang bermuatan politik disulap seolah ilmiah. Ekonometrika hanya dijadikan alat untuk menjustifikasi kebijakan yang sering kali menyengsarakan rakyat.
Kembali lagi ke Beyonce. Proyek pembangunan berkelanjutan tahun 2015 itu dianggap gagal karena kurang radikal dan masih menggunakan pendekatan dan ukuran lama. Sampai buku ini ditulis tahun 2025, belum ada tanda-tanda keberhasilan.
Kini, orang-orang mendambakan paradigma baru. Sebuah dunia baru.