Miskonsepsi Panggilan Jiwa
Mengerjakan apa yang Anda suka dan meninggalkan apa yang tidak memang terdengar masuk akal.
Di masa kanak-kanak, Profesor Barbara Oakley kesulitan memahami matematika. Beliau lebih senang mempelajari sejarah dan bahasa.
Seperti kebanyakan orang, beliau hanya fokus dengan apa yang disuka sampai pilihan hidupnya membawanya ke Antartika. Di sana, beliau menjadi penutur bahasa Rusia di Angkatan Darat Amerika.
Alih-alih menghindari apa yang tidak disuka, beliau malah ditugaskan sebagai operator radio yang membutuhkan kecakapan di bidang elektronika—sesuatu yang menakutkan baginya.
Dari situ, beliau sadar bahwa mengikuti panggilan jiwa hanya menawarkan sedikit pilihan dalam hidup.
Akhirnya, di usia 26 tahun, beliau memutuskan untuk kuliah lagi. Beliau yang tidak punya latar belakang teknik harus berkutat dengan matematika yang beliau benci sejak kecil. Mau tidak mau, beliau harus memulai semuanya dari nol.
Berkat ketekunannya, beliau berhasil lulus dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi sampai mendapat gelar doktor.
Profesor Barbara Oakley membuktikan bahwa otak kita itu elastis. Beliau memang lebih mudah mencerna tata bahasa asing daripada rumus matematika, namun bukan berarti beliau tidak bisa menjadi ahli di bidang teknik yang erat kaitannya dengan matematika.
Jangan membatasi diri Anda dengan mengandalkan panggilan jiwa. Luaskan pandangan Anda dengan mempelajari berbagai macam hal yang berguna dalam hidup.
Anda bisa kunjungi situs pribadinya di https://barbaraoakley.com.