Tidur Sambil Belajar (Bukan Sebaliknya): Antitesis Sistem Kebut Semalam
Kemampuan manusia dalam mencerna informasi itu beragam. Ibarat koneksi Internet, ada manusia yang bisa menerima data 1 Terra per detik, ada juga yang hanya 1 KB. Semuanya sama-sama mulia di mata Allah, tapi yang paling mulia di antara mereka adalah yang paling berilmu.
Lalu, bagaimana menjadi orang berilmu jika kemampuan otak terbatas?
Begini. Saya percaya, otak pas-pasan dan tampang pas-pasan sama-sama bisa dioptimasi. Tidak apa-apa goreng patut (tidak tampan), asalkan bersih, wangi, dan berakhlak baik. Tidak apa-apa lemot (lamban), yang penting ilmu melekat seperti janin di rahim ibu.
Di artikel ini saya akan membahas bagaimana informasi direkatkan di memori saat kita tidur.
Merajut informasi menjadi ilmu ternyata ada kaitannya dengan kualitas tidur.
Seorang peneliti bernama Guang Yang memperlihatkan bahwa akar-akar pada sel neuron (dendrit) tumbuh saat kita belajar, namun tumbuh lebih subur saat kita tidur. Akar-akar ini bagaikan benang yang merajut sel-sel neuron. Jika kita ibaratkan proses belajar seperti menjahit, tidur membantu kita mengurai benang kusut dan merapikan jahitannya. Inilah yang dimaksud dengan tidur sambil belajar.
Yang menarik, akar-akar yang menjalar ini akan rontok secara alami seperti rumput yang disiangi. Fenomena ini menjelaskan kenapa kita lupa apa yang kita pelajari di masa lalu. Berapa banyak dari kita yang masih ingat pelajaran sekolah dulu?
Untuk merawat akar-akar ini agar tetap subur, harus ada siklus belajar dan tidur yang berkesinambungan. Belajar, kemudian tidur. Belajar lagi, tidur lagi. Begitu saja terus sampai informasi bertransformasi menjadi ilmu.
Jadi, selain tidur nyenyak, kita juga harus mengulang kembali apa yang dipelajari.
Beri jeda waktu 1 atau 2 hari di setiap sesi untuk mendapatkan siklus belajar-tidur yang optimal. Ini memungkinkan akar-akar dendrit menjalar dan merekatkan informasi di memori. Seperti mendirikan tembok, kita harus membiarkan semennya kering dulu sebelum menumpuk balok baru di atasnya. Inilah yang disebut space repetition.
Gunakan Anki untuk menjadwalkan repetisi secara otomatis.
Nah, belajar sudah, tidur nyenyak juga sudah, tapi kenapa ada orang yang bisa mendapat nilai bagus dengan sistem kebut semalam? Sementara itu, ada orang yang belajar mati-matian, tapi mendapat nilai kurang memuaskan? Kok, bisa begitu? Salah siapa? Salah bunda mengandung?
Begini kawan, karena sistem pendidikan hanya ditentukan nilai, aspek lain seperti usaha dan niat tidak diperhitungkan. Boleh jadi, orang pintar bisa mencerna informasi dengan cepat, tapi informasi itu luntur setelah tujuannya tercapai—mendapat nilai A—, sedangkan orang dengan nilai C mendapat insight baru dan ilmunya mendarah daging sampai terbawa mimpi.
Kesenjangan itu adalah keniscayaan. Tidak perlu iri dan dengki. Yang bisa kita lakukan adalah memaksimalkan potensi diri. Seperti mamang-mamang yang terlihat menawan karena berdandan rapi, orang biasa juga bisa berprestasi secara akademik dengan cara belajar efektif.
Demikian. Semoga bermanfaat. Mari kita rangkum:
- Tidur itu bagian penting dari proses belajar
- Akar neuron tumbuh subur ketika kita tidur
- Informasi yang ingin kita simpan di memori jangka panjang akan terkikis bila tidak ada repetisi (mengulang pelajaran)
- Berikan jeda istirahat selama repetisi
- Gunakan Anki agar jadwal repetisi berjalan otomatis