Mukadimah

Photo by Peter Olexa on Unsplash

Mukadimah

Kategori: #gagasan

Kenapa harus belajar?

“Ilmu adalah kemuliaan dan itu saja sudah cukup jadi alasan untuk meraihnya. Kebodohan adalah kehinaan dan itu saja sudah cukup jadi alasan untuk menjauhinya.”—Ibn Hazm

Sebelum belajar cara belajar, alangkah baiknya kita cek realita terlebih dahulu:

Ilmu dan Informasi Itu Dua Hal Yang Berbeda

Ilmu bukan sekadar mengoleksi informasi. Mudahnya begini: si Fulan adalah penggemar NBA, dia tahu teknik jump shoot dan bisa menjelaskannya panjang lebar, namun dia tidak bisa melakukannya di lapangan. Itulah yang disebut informasi. Michael Jordan melakukan jump shoot dan bola masuk ke ring dengan mulus. Itulah yang disebut ilmu. Si Fulan tahu, tapi tidak bisa mempraktikkan apa yang dia tahu. Kata tahu ini seperti tahu (makanan)—terlihat padat, tapi setelah diraba ternyata empuk dan lembek.

Informasi berada di wilayah konsep, sedangkan ilmu berada di wilayah praktik. Orang yang ahli di bidangnya disebut praktisi, sedangkan orang yang berkutat di wilayah konsep disebut teoretikus.

Belajar Itu Susah

Belajar itu susah kecuali Anda jenius seperti tokoh utama di film Good Will Hunting. Saya mau curhat sedikit. Saat SD, saya dijuluki Telor Busuk karena selain kepala saya peyang isinya juga busuk—sering mendapat nilai merah dan dimarahi guru. Otak saya mulai sedikit encer di kelas 6 ketika dididik oleh guru yang tepat—Pak Enjum Sumarna. Dengan susah payah, Pak Enjum menjejali kepala saya dengan ilmu dan beliau berhasil. Orang tua sampai heran saya bisa mendapat nilai bagus dan masuk SMP Negeri.

Ternyata dengan belajar, otak yang lemot sekalipun bisa diasah. Kelemotan saya masih berlanjut di dunia kerja, tapi tidak separah dulu. Belajar itu susah, tapi hasilnya sepadan. Mari telan kenyataan pahit ini—untuk mayoritas kita, belajar memang susah.

Tidak Ada Jalan Pintas

Jangan cari cara mudah, cari cara efektif—dan cara yang paling efektif sekalipun terkadang susah juga. Trik dan tip hanya akan jadi sekilas info bila tidak dipahami, dihayati, dan diresapi. Apakah saya bisa mendribel bola hanya dengan membaca Cara Mudah Mendribel Bola dalam 10 Hari? Tidak. Saya harus pergi ke lapangan dan mendribel bola. Tidak ada cara lain.

Demikian. Mudah-mudahan kata pengantar ini bisa jadi pemicu. Mari belajar cara belajar!