Reset Indonesia: Raksasa Konglomerasi Sosial

Reset Indonesia: Raksasa Konglomerasi Sosial

Kategori: #gagasan

Koperasi justru tumbuh di negara industri dengan corak ekonomi kapitalis seperti Finlandia, Jepang, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Di Finlandia, 75% produksi kayu dikelola oleh koperasi. Di Jepang, gabungan dari 1.600 koperasi yang beranggotakan 1,8 juta petani menguasai 46% area hutan. Di Selandia Baru, 80% produk peternakan dan pengolahan susu ditangani oleh koperasi. Di Amerika Serikat, pasal-pasal tentang monopoli dibuat pengecualiannya untuk koperasi.

Bagaimana dengan Indonesia? Usaha-usaha besar seperti perikanan, perkebunan, dan kehutanan masih dipegang oleh BUMN (Badan Usaha Milik Negara).

Pada 2023, Suroto, seorang pegiat koperasi, mengusulkan untuk mengubah BUMN menjadi koperasi. Menurut sebagian orang, ini bertentangan dengan konstitusi karena meniadakan peran negara dalam ekonomi. Lucunya, intensi untuk membubarkan BUMN justru diperlihatkan sendiri oleh Menteri BUMN (2019-2025), Erik Thohir. Kata beliau, “BUMN mungkin tidak diperlukan lagi di tahun 2045.”

Koperasi memang usaha swasta, namun dimiliki oleh rakyat, bukan pejabat. Setiap anggotanya berpartisipasi demi kemaslahatan bersama. Koperasi itu memang idealnya kecil untuk menjaga keutuhan sosial, namun jika digabung akan menjadi raksasa konglomerasi sosial yang mampu mengemban tanggung jawab besar. Ini sejalan dengan gagasan Ernst Friedrich Schumacher dalam bukunya Small is Beautiful (1973).

Apa perbedaan antara koperasi dan korporasi? Di koperasi, manusia mengendalikan modal, sementara di korporasi, modal mengendalikan manusia. Satu anggota di koperasi punya satu hak suara berapa pun besar iurannya. Sementara di korporasi, pemegang saham mayoritas punya hak suara lebih besar—semakin besar modal, semakin berkuasa. Tujuan utama koperasi adalah menyejahterakan anggota, sementara korporasi memaksimalkan profit. Di koperasi, keuntungan dibagi berdasarkan partisipasi, sementara di korporasi dibagi berdasarkan proporsi.

Aliansi Koperasi Internasional (ICA) secara rutin merilis daftar 300 koperasi terbaik dunia yang jika digabung omzetnya melampaui PDB Spanyol. Tidak ada satu pun koperasi di Indonesia yang masuk dalam daftar itu.

Berikut fakta-fakta menarik seputar 300 koperasi terbaik dunia:

  • Lebih dari 50% koperasi bergerak di bidang pertanian, kehutanan, dan bisnis retail
  • Dari ASEAN, Malaysia menyumbang 2 koperasi (Bank Kerja Sama Rakyat Malaysia, NTUC Income) dan Singapura 1 koperasi (FairPrice)
  • Koperasi retail terbesar di dunia dipegang oleh Jerman dan Prancis yang masing-masing diwakili oleh REWE Group dan Groupe BPCE
  • Sektor pertanian dipegang oleh Jepang dan Korea. Dari Jepang, Zen Noh dan Zenkyoren masuk 10 besar. Nonghyup dari Korea Selatan ada di peringkat 4
  • Koperasi memainkan peran penting di Korea Selatan. Tidak hanya di sektor pertanian, model usaha koperasi juga ditemukan di sektor pendidikan
  • Dalam urusan etika produksi, Fronterra—koperasi asal Selandia Baru—paling menonjol di antara yang lain. Mereka menganggap anggotanya orang-orang baik yang melakukan hal-hal baik. Fronterra menguasai 35% pangsa pasar susu dunia
  • Denmark menyumbang 8 koperasi. Di sana, sekitar 90% pangsa pasar produk pertanian, peternakan, dan perikanan dikuasai oleh koperasi
  • Koperasi kesehatan terbesar di dunia ada di Brasil, diwakili oleh Sistema Unimed yang beranggotakan 135.000 dokter dan perawat
  • Menurut lembaga survei, Brasil adalah negara dengan budaya koperasi terbaik di dunia
  • Di pedalaman Amerika Serikat, koperasi-koperasi energi bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar

Koperasi bukan model usaha ecek-ecek. 12% penduduk dunia terlibat dalam koperasi dan 10% lapangan kerja diciptakan oleh koperasi.

Ekspedisi Indonesia Baru juga dikelola oleh koperasi. Gagasan Bung Hatta dipraktikkan sendiri oleh tim penulis buku Reset Indonesia.

Prinsip-prinsip koperasi sebenarnya termaktub secara tersirat dalam konstitusi. Tertulis, “perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.”

Menurut keyakinan penulis, prinsip-prinsip koperasi bukan hanya sekadar slogan, melainkan sifat dasar manusia yang universal. Berbagai eksperimen dari ilmu psikologi, ekonomi, antropologi, sampai biologi, menunjukkan bahwa kolaborasilah yang punya peran penting dalam evolusi—bukan kompetisi.

Selama ini kita dicekoki dengan pandangan keliru bahwa kompetisi mempercepat kemajuan. Asumsi ini dipengaruhi oleh pemikiran Milton Friedman dan Richard Dawkins. Friedman bilang kalau kompetisi adalah prasyarat pertumbuhan ekonomi, sementara kata Dawkins, manusia terlahir egois.

Mereka keliru. Ekonomi yang mengabaikan kolaborasi tidak akan mampu menciptakan inovasi dan manusia punya kecenderungan untuk membantu satu sama lain. Kalau Bung Karno dan Bung Hatta masih hidup, mereka juga pasti akan bilang begitu.