Reset Indonesia: Mencegah Simalakama Kereta Api

Reset Indonesia: Mencegah Simalakama Kereta Api

Kategori: #gagasan

Dulu, sistem kereta api kita begitu semrawut: pedagang asongan, pengamen, dan calo tiket berkeliaran di stasiun. Kini, sistem kereta api kita lebih tertata dan tepat waktu berkat kinerja apik Pak Ignasius Jonan.

Pak Ignasius Jonan telah membawa perombakan besar dalam manajemen kereta api. Bisa dilihat sendiri, ternyata perusahaan plat merah juga mampu meningkatkan kualitas layanan publik jika dikelola dengan baik.

Di balik sistem baru yang modern ini, ada harga yang harus dibayar. Harga tiket antarkota melambung tinggi, bahkan ada yang seharga tiket pesawat (Whoosh). Apakah sistem yang baik harus mahal dan elitis? Bukankah transportasi umum diperuntukkan bagi semua orang? Jika transportasi umum mahal, orang-orang akan kembali memakai kendaraan pribadi. Semakin banyak kendaraan pribadi di jalan, semakin boros konsumsi energi dan negara semakin merugi.

Penggusuran pedagang kaki lima di stasiun juga problematik. Ini menunjukkan minimnya keterlibatan negara di sektor informal. Seharusnya pemerintah mengayomi dan memberi mereka kesempatan yang sama dengan pemilik modal besar. Koperasi pedagang kaki lima bisa jadi solusi agar kios-kios di stasiun diisi lebih banyak UMKM daripada frenchise-frenchise borjuis.

Dilema antara “bagus, tapi mahal” versus “murah, tapi bobrok” bukan murni kesalahan Pak Ignasius Jonan. Bila BUMN dikelola seperti perusahaan swasta, rakyat hanya jadi konsumen yang dirogoh koceknya demi keuntungan semata. Seharusnya tidak apa BUMN merugi asalkan semuanya demi kemaslahatan bersama—anggap saja investasi jangka panjang. Transportasi umum yang murah adalah bentuk keberpihakan negara kepada rakyatnya. Kalau negara kapitalis saja bersedia memberikan subsidi untuk transportasi umum, kenapa kita tidak? Kereta api yang bagus dan murah itu adalah hal yang lumrah.