Reset Indonesia: Mencari Ukuran Kemajuan
Air keran yang bisa langsung diminum adalah tolak ukur kemajuan bangsa. Bagaimana bisa air bersih dari hulu berubah menjadi kotor di muara sampai tidak bisa diminum? Jika ditelisik, air keran yang tidak bisa diminum ternyata merambat ke isu politik, ekonomi, kebudayaan, dan pendidikan
Ekonomi
Pabrik-pabrik berdiri berderetan di daerah aliran sungai. Mereka membuang limbah pabrik ke sungai. Tidak heran sumber air yang dipakai PDAM jadi tercemar.
Politik
Miliarder di Indonesia hampir semuanya punya perusahaan air kemasan. Biaya pemilu yang mahal membuat politikus mencari sponsor. Jika sponsornya miliarder yang punya kepentingan dengan air, maka bisa ditebak kebijakan macam apa yang akan dibuat.
Kebudayaan
Sikap apatis terhadap lingkungan sudah mendarah daging bahkan di perkotaan yang konon lebih beradab, open-minded, dan modern. Justru orang-orang yang mengeramatkan sungai, mengultuskan gunung, atau menyakralkan hutan mampu melestarikan alam sampai ribuan tahun.
Pendidikan
Masyarakat Indonesia terbiasa membuang limbah domestik langsung ke sungai tanpa memikirkan konsekuensinya. Jika pendidikan kita baik, nalar masyarakat akan berfungsi sehingga tidak mungkin membuang sampah sembarangan.
Seperti air keran yang tidak bisa diminum, keliling indonesia dengan mengendarai motor merambat ke berbagai aspek kehidupan yang memaksa penulis mempelajari hal-hal baru.