Reset Indonesia: Kutukan Penyakit Belanda

Reset Indonesia: Kutukan Penyakit Belanda

Kategori: #gagasan

Majalah The Economist menggunakan istilah The Dutch Desease untuk menggambarkan keadaan negara yang mencurahkan segala daya dan upaya untuk sektor tertentu dan mengabaikan yang lain. Pada tahun 1959, Belanda mempertaruhkan segalanya untuk cadangan gas alam yang baru ditemukan. Hasilnya? Gas alam nilai ekonominya anjlok, sementara sektor lain terbengkalai.

Indonesia bukannya belajar dari kesalahan mantan penjajahnya, malah ikut-ikutan. Di masa Orde Baru, Indonesia jadi salah satu pemasok minyak mentah terbesar di dunia. Kini, Indonesia jadi salah satu konsumen minyak mentah terbesar di dunia. Di era reformasi, Indonesia mabuk kepayang dengan sawit dan batu bara. Sekarang, nikel menjadi primadona karena jadi bahan baku pembuatan baterai mobil listrik. Bagaimana respon Indonesia? Tentu saja Indonesia selalu up-to-date dengan tren dan berbondong-bondong mengeruk cadangan nikel yang akan habis dalam 10 tahun.

Berbeda dengan Indonesia, Iran begitu hati-hati dengan sumber daya alamnya. Selain punya cadangan minyak mentah yang melimpah, Iran ternyata punya cadangan “mineral langka” yang nilai ekonominya tinggi, tapi menolak tawaran investasi dari Eropa untuk mengolahnya. Para ilmuan Iran melakukan riset untuk menemukan cara mengurai “mineral langka” tersebut. Iran lebih memilih mendiamkan sumber daya alamnya tetap di dalam tanah sampai sumber daya manusianya siap mengelolanya dengan teknologi sendiri. Iran adalah manifestasi dari cita-cita Bung Karno tentang Indonesia yang berdiri di atas kaki sendiri.

Indonesia kaya akan sumber daya alam tak terbarukan. Bukannya menjadikannya sebagai modal jangka panjang, Indonesia malah mengobralnya dengan harga murah seolah tidak akan pernah habis. Sementara itu, sumber daya alam terbarukan seperti hutan dan keragaman hayatinya dibabat habis.